Sepanjang Jalan, Sepanjang Kenangan

Ada sebuah jalan yang menghubungkan kotaku dengan kota pelajar.
Jalan itu mungkin sudah ribuan kali kulewati sejak aku lahir.

Aku bahkan tidak ingat lagi kapan pertama kali melaluinya. Rasanya seperti jalan itu memang sudah selalu ada dalam hidupku, seperti urat nadi yang menghubungkan dua bagian hidup yang berbeda.

Setiap kali melewatinya, jalan ini selalu membawa cerita.

Kadang cerita yang menyenangkan.
Hari-hari ketika aku melewatinya bersama teman-teman, tertawa di atas motor atau di dalam mobil, membicarakan hal-hal kecil yang saat itu terasa sangat penting.

Kadang juga cerita yang menjengkelkan.
Seperti ketika harus menepi di pinggir jalan karena lampu merah yang tak sengaja diterobos, atau ketika seorang polisi menghentikan perjalanan yang seharusnya biasa saja.

Dan ada juga cerita yang hampir tidak ingin kuingat.
Sebuah kecelakaan kecil di atas motor yang nyaris saja menjemput maut. Saat itu jalan ini terasa berbeda, bukan lagi sekadar jalan pulang atau jalan pergi, tapi pengingat bahwa hidup bisa berubah dalam satu detik.

Namun jalan ini juga menyimpan cerita yang jauh lebih sunyi.

Aku pernah melaluinya dengan hati yang berat, menuju sebuah pertemuan terakhir dengan seseorang.
Aku juga pernah melaluinya untuk mengantar seseorang pergi meninggalkan kotaku.

Dan mungkin suatu hari nanti, aku akan kembali melewatinya untuk menemui seseorang yang baru saja pergi meninggalkanku. Seperti dulu.

Sepanjang jalan itu, kenangan terasa seperti bayangan yang mengikuti.
Setiap tikungan, setiap lampu merah, setiap warung kecil di pinggir jalan seakan menyimpan potongan cerita.

Kadang aku bertanya dalam hati:
sebenarnya setelah ini, cerita apa lagi yang masih akan tersisa?

Jalan itu sendiri tidak banyak berubah.
Aspalnya masih sama.
Pohon-pohon di tepinya mungkin masih berdiri di tempat yang sama.

Tetapi kehidupan di sekitarnya telah banyak berubah.

Bangunan baru berdiri.
Warung lama hilang.
Orang-orang datang dan pergi.

Dan tanpa kusadari, aku juga berubah.

Aku semakin dewasa.
Dan mungkin juga semakin tua.

Orang-orang yang dulu duduk bersamaku di perjalanan itu satu per satu melanjutkan hidup mereka. Sebagian pergi jauh, sebagian hanya tinggal sebagai kenangan.

Tetapi aku masih di sini.

Masih melewati jalan yang sama.
Masih melihat langit yang sama di atasnya.

Dan setiap kali melewati jalan itu, aku selalu teringat bahwa pernah ada waktu ketika seseorang duduk di sampingku, tertawa, bercerita, dan bersama-sama menempuh perjalanan yang sama.

Mungkin suatu hari nanti aku akan melewati jalan itu lagi.

Seperti biasa, langit di atasnya mungkin masih sama. Pohon-pohon di pinggirnya mungkin masih berdiri di tempat yang sama.

Tetapi orang-orang yang pernah menempuh perjalanan itu bersamaku mungkin sudah tidak lagi ada di sana.

Namun setiap kali roda kendaraan menyentuh aspal jalan itu, aku tahu satu hal:

mereka pernah ada di sana.

Pernah duduk di sampingku.

Pernah tertawa bersamaku.

Dan pernah melewati jalan yang sama ini.

Related posts

Fragments

Akhir

Radio!