[vc_row][vc_column][vc_column_text css=””]
Saat pesawat mulai menurunkan ketinggian, daratan Aceh perlahan terlihat dari balik jendela. Garis pantai muncul lebih dulu, lalu hamparan hijau yang memanjang hingga ke kaki pegunungan.
Saya datang tanpa ekspektasi apa pun, hanya membawa niat untuk memulai tahun dengan perjalanan yang mengalir pelan—mendengarkan alam dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk benar-benar hadir serta sembuh dari luka batin.
Perjalanan kali ini bukan soal menaklukkan sebanyak mungkin destinasi, melainkan tentang mendatangi tempat-tempat baru yang dapat dinikmati sepenuhnya. Dalam tiga hari empat malam, saya berpindah lokasi dan destinasi, mengikuti irama Aceh yang tenang dan kaya: laut yang jernih, pegunungan yang sejuk, kopi yang harum, serta jejak sejarah yang masih terasa di udara.
Malam pertama saya habiskan di Banda Aceh. Dari hotel di pusat kota, Museum Tsunami Aceh hanya berjarak sekitar sepuluh menit berkendara. Saya memilih memulainya pada pagi hari, ketika cahaya belum terlalu menusuk kulit dan langkah orang-orang di sekitar belum tergesa. Bangunan ini bukan sekadar museum; ia adalah ruang hening. Lorong gelap, suara air, dan dinding berisi nama-nama korban membuat saya berjalan perlahan, nyaris tertegun.
Jejak Memori
Pengunjung menyusuri lorong Museum Tsunami Aceh, monumen peringatan gempa dan tsunami 26 Desember 2004, yang menewaskan lebih dari 200.000 jiwa di Aceh.
Aceh dikenal dunia karena bencana, tetapi di sini saya menangkap hal lain: keteguhan untuk mengingat tanpa terjebak dalam duka. Mungkin itu sebabnya museum ini selalu masuk daftar kunjungan, bukan karena tragedinya, melainkan karena cara Aceh berdamai dengannya.
Dari Museum Tsunami, saya melanjutkan perjalanan ke Ulee Kareng, sekitar lima belas menit berkendara. Kawasan ini hidup dengan ritme yang berbeda. Aroma kopi arabika Aceh memenuhi udara, bercampur dengan suara obrolan ringan, terutama pada momen Ramadan dan Idulfitri. Saya duduk cukup lama di salah satu warung kopi, mengamati orang-orang yang datang dan pergi tanpa terburu-buru. Ulee Kareng terasa seperti jeda di tengah kota yang hangat dan bersahabat. Di sinilah saya memahami mengapa kopi Aceh bukan sekadar komoditas, melainkan budaya yang dijaga masyarakatnya.
Di Ulee Kareng, kopi bukan hanya diminum, tetapi dipelihara dengan kesabaran. Banyak warung menyeduh kopi Gayo, kopi arabika dari dataran tinggi Aceh, yang diracik dengan cara sederhana namun penuh perhatian. Dari proses sangrai manual hingga racikan air panas yang presisi, sampai kebiasaan menyeruput perlahan sambil berbincang, semuanya menyiratkan cara hidup yang menghargai waktu.
Di salah satu warung kopi Ulee Kareng, tersedia berbagai camilan lokal yang tersusun rapi di etalase: gorengan hangat, aneka kue tradisional, hingga penganan manis khas Aceh yang menggoda untuk dicicipi satu per satu. Namun pagi itu, saya memilih nasi pagi udang, sarapan sederhana yang dibungkus daun pisang, hangat dan harum.
Sebagai penutup, dari sekian banyak pilihan, saya menjatuhkan pilihan pada ketan srikaya yang legit: manis, gurih, dan lembut, disantap perlahan bersama sisa kopi yang mulai mendingin. Pagi itu terasa utuh, sederhana, jujur, dan hangat, persis seperti cara Ulee Kareng memperlakukan manusia. Tak heran kawasan ini selalu hidup, dari pagi hingga larut malam.
Tak jauh dari riuh obrolan warung kopi Ulee Kareng, ada tradisi yang denyutnya terasa hingga ke lorong-lorong pasar: meugang. Sehari menjelang Ramadan dan Idulfitri, pasar mendadak padat oleh lapak-lapak daging yang berjejer di gang sempit; pisau berkilat, timbangan bergoyang, dan suara tawar-menawar bersahut-sahutan. Daging-daging itu kemudian dibawa pulang, dimasak menjadi kuah beulangong atau kari kaya rempah, lalu disantap bersama keluarga besar di rumah orang tua.
Meugang bukan sekadar membeli bahan makanan, melainkan ritual berbagi dan menikmati hidangan bersama keluarga, kerabat, serta mereka yang membutuhkan. Tradisi ini menyatukan kembali para perantau dan menandai hari besar dengan rasa syukur melalui hidangan di meja makan.
Di sudut lain Aceh Besar, ketika Ramadan tiba, meunasah, pusat komunitas dan ibadah desa, mengeluarkan aroma berbeda: ie bu peudah yang dimasak dalam kuali besar sejak siang hari. Ratusan porsi bubur pedas khas Aceh ini diaduk perlahan oleh para lelaki, sementara perempuan meracik puluhan dedaunan dan rempah.
Berbahan dasar beras yang dimasak bersama kacang hijau, jagung, serta aneka daun seperti tahe peuha, nekuet, theumpheung, hingga daun saga, bubur ini bertekstur lembut dengan rasa kompleks: sedikit pedas, berpadu manis dan asin, dengan aroma kuat yang khas dan sulit dilupakan. Warga dan pelintas jalan datang membawa wadah, menunggu waktu berbuka bersama. Hangatnya bubur yang hanya hadir di bulan puasa itu merangkum semangat Ramadan di Aceh: gotong royong, kedermawanan, dan kebersamaan yang mengalir apa adanya.
Pagi berikutnya, saya bergegas menuju Pink Beach di Lhok Mata Ie, Aceh Besar. Waktu tempuh sekitar dua jam, melewati jalan berkelok dan hutan-hutan kecil. Pantai ini tidak berisik. Warna pasirnya memang tidak selalu merah muda pekat, tetapi kilau halusnya muncul ketika cahaya jatuh pada sudut yang tepat. Lautnya jernih dan ombaknya tenang. Pink Beach terasa seperti rahasia yang tersingkap sedikit demi sedikit, cukup terkenal untuk dikunjungi, namun cukup sunyi untuk dinikmati.
Di sana, saya menghabiskan waktu dengan snorkeling ringan dan freedive pendek, menyusuri perairan dangkal yang transparan. Terumbu karang kecil tumbuh alami, sementara ikan-ikan berwarna melintas tanpa merasa terganggu. Tak perlu bergerak jauh ke tengah; beberapa meter dari bibir pantai saja sudah cukup untuk menyaksikan kehidupan laut yang tenang.
Saat menahan napas dan menyelam perlahan, dunia di atas terasa menghilang. Yang tersisa hanyalah ritme napas, gerak tubuh, dan cahaya yang menembus air. Pink Beach mengajak siapa pun menikmati laut tanpa tergesa.
Siang hari, saya bersiap menuju Pulau Weh. Dari hotel ke Pelabuhan Ulee Lheue hanya sekitar dua puluh menit perjalanan. Kapal cepat membawa saya ke Sabang dalam waktu kurang lebih empat puluh lima menit. Saya memilih menginap di kawasan Iboih, dekat laut.
Pulau Weh selalu memiliki tempat khusus dalam imajinasi banyak orang tentang Aceh: laut biru, terumbu karang, dan keindahan yang terasa terpisah dari dunia. Sore itu saya hanya duduk di tepi pantai, menyaksikan matahari turun perlahan. Pulau Weh digemari karena menawarkan keseimbangan, cukup nyaman bagi wisatawan, tetapi tetap liar dan alami.
Pulau Weh juga dikenal sebagai surga bagi para penyelam. Perairannya menyimpan kehidupan bawah laut yang kaya, mulai dari gerombolan ikan badut yang bersembunyi di antara anemon, pari yang melintas anggun di dasar laut, hingga beragam biota tropis yang bergerak bebas di terumbu karang yang masih sehat. Keistimewaan ini tak lepas dari asal-usul geologinya: pulau ini terbentuk dari aktivitas vulkanik purba dan pernah terhubung dengan daratan Sumatra. Jejak tersebut membentuk kontur laut yang dramatis, arus yang hidup, dan ekosistem yang subur.
Sore harinya, bersama beberapa kolega, saya meninggalkan Banda Aceh menuju Jantho Panorama Park di Aceh Besar, sekitar satu setengah jam perjalanan darat. Saya memilih bermalam di penginapan sederhana agar pagi berikutnya dapat langsung menikmati lanskap. Dari ketinggian Jantho, Aceh terbentang hijau dan luas. Tempat ini belakangan menjadi favorit karena menawarkan keindahan tanpa hiruk-pikuk, panorama yang melegakan perasaan dan menenangkan hati, bahkan ketika kita hanya diam memandangnya.
Tak jauh dari sana, alam Jantho menghadirkan kejutan lain. Air Terjun Peucari membuat saya terdiam. Air mengalir bertingkat di antara pepohonan rapat; suaranya jernih dan konstan, seolah menjadi napas hutan itu sendiri. Setiap tingkatannya memantulkan cahaya dengan cara berbeda, membuat siapa pun yang tiba di sana otomatis takjub oleh kesederhanaan yang agung.
Di sisi lain kawasan ini, Gurun Putih Lestari Safari Park menghadirkan lanskap kontras: hamparan padang rumput luas tempat burung unta melangkah santai, rusa berkeliaran, aneka burung beterbangan, hingga singa yang diam mengamati dari kejauhan. Jantho terasa lengkap, hijau yang menenangkan, air yang menyegarkan, dan kehidupan alam liar yang hidup berdampingan.
Saat senja tiba, saya duduk memandangi lanskap hijau dan menyadari bahwa Aceh tidak menawarkan satu lapis pengalaman saja: dari ingatan kolektif di Museum Tsunami, kehangatan kopi Ulee Kareng, kesunyian alam Jantho, hingga lembutnya Pink Beach.
Perjalanan ini menunjukkan bahwa keindahan Indonesia tidak pernah habis oleh satu rute atau satu cerita. Nusantara memiliki begitu banyak segmen yang menunggu untuk dijelajahi, dan Aceh memperlihatkan hal itu dengan caranya sendiri. Di luar perjalanan ini, masih ada bentang alam dan kisah yang menanti untuk ditemui, bukan untuk ditaklukkan, melainkan untuk dialami.
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_tta_tabs active_section=”” title=”Five Senses”][vc_tta_section title=”Sight – Masjid Baiturrahman” tab_id=”1772488468289-0fc39575-6c45″][vc_column_text css=””]
Masjid Baiturrahman
Berdiri anggun di tepi pesisir Ulee Lheue, masjid peninggalan abad ke-17 dengan dinding putih bergaya Eropa ini seolah menjadi saksi bisu perjalanan panjang Aceh, dari era Kesultanan hingga tragedi tsunami 2004.
Di pelatarannya, sulit untuk tidak terdiam, membayangkan bagaimana bangunan kokoh ini tetap tegak ketika kawasan sekitarnya luluh lantak saat bencana itu terjadi. Masjid ini pun menjadi simbol ketahanan dan harapan.
[/vc_column_text][/vc_tta_section][vc_tta_section title=”Sight – Pucok Krueng” tab_id=”1773018428629-5c8ec330-60ea”][vc_column_text css=””]Pucok Krueng merupakan lanskap yang masih terawat dan terasa alami. Hutan berbicara lewat suara alam yang lirih, sesekali disela gerak monyet yang berayun di dahan-dahan tinggi. Air yang tenang terus mengalir, dikenal sebagal “air abadı”, menyusuri pinggir batuan keras yang berdiri tegak. Tempat ini terasa teratur tanpa perlu ditata, menjadi favorit bagi mereka yang ingin menjauh sejenak dari hiruk-pikuk dan merasakan alam apa adanya.[/vc_column_text][/vc_tta_section][vc_tta_section title=”Taste – Roti Canai Aceh” tab_id=”1773018330113-917bc11a-4198″][vc_column_text css=””]Menjadi bagian dari tradisi kuliner harian yang dipengaruhi budaya India-Arab dan telah lama berakar di Aceh, roti canai dibuat dari adonan sederhana yang dipipihkan tipis, lalu dipanggang di atas wajan datar hingga berlapis, renyah di luar, dan lembut di dalam. Disajikan bersama kari kambing atau kuah gulai kaya rempah, roti canai mudah ditemui di warung kopi dan kedai sarapan, lezat dinikmati sebagai teman kopi panas.[/vc_column_text][/vc_tta_section][vc_tta_section title=”Touch – Rumoh Aceh” tab_id=”1773018471863-c9194695-67ef”][vc_column_text css=””]Menapaki Rumoh Aceh, tubuh segera diajak beradaptasi. Telapak kaki menyentuh papan kayu yang hangat dan sedikit lentur, sementara ukiran di dinding terasa halus saat diraba. Tangga kayu memaksa langkah melambat, dan pintu rendah membuat kepala menunduk. Lantai berpasak berderit pelan, menghadirkan sensasi rumah yang hidup, bernapas, dan membawa rasa pulang. Setiap sentuhan mengikat penghuni pada ritme tradisi yang diwariskan lintas generasi.[/vc_column_text][/vc_tta_section][/vc_tta_tabs][/vc_column][/vc_row]