Mesin Waktu yang Tidak Pernah Selesai

Aku sering membayangkan ada sebuah mesin waktu, tersembunyi di sudut dunia yang tidak diketahui siapa pun. Bukan mesin besar dengan cahaya biru menyilaukan atau suara logam berderak, tapi sesuatu yang sederhana, mungkin seperti jam tua di ruang tamu, yang berdetak pelan, seolah tahu bahwa waktu tidak seharusnya terburu-buru.

Seandainya aku menemukannya, aku tidak akan pergi jauh. Aku tidak ingin kembali ke masa kecil, atau mengubah takdir yang besar. Aku hanya ingin kembali ke hari-hari biasa. Hari yang dulu terasa biasa saja, tapi sekarang terasa seperti sesuatu yang sangat berharga.

Aku ingin duduk lebih lama bersamanya.

Mungkin di sore hari, saat cahaya matahari masuk dari jendela, dan ia hanya duduk dengan tenangnya. Aku ingin menahan waktu di situ. Tidak melakukan apa-apa yang luar biasa. Hanya tinggal lebih lama. Mendengarkan ceritanya, bahkan yang sudah pernah ia ulang berkali-kali.

Aku tidak akan bosan kali ini.

Aku ingin bercerita lebih banyak. Tentang hal-hal kecil yang dulu kupikir tidak penting. Tentang apa yang kupikirkan, apa yang kurasakan. Tentang hidup yang berjalan pelan tapi pasti menjauh dari masa itu.

Aku ingin ia tahu bahwa aku memperhatikan. Bahwa aku mengingat.

Aku juga ingin mengatakan hal-hal yang dulu terasa terlalu sederhana untuk diucapkan. Hal-hal yang sekarang terasa begitu berat untuk disimpan sendiri.

Bahwa aku bersyukur.

Bahwa aku bangga.

Bahwa aku… masih ingin duduk di sana, meski hanya sebentar lagi.

Tapi mesin waktu itu tidak pernah benar-benar ada. Yang tersisa hanyalah kenangan, pecahan waktu yang tidak bisa diulang, hanya bisa diingat.

Dan mungkin, itu yang paling mendekati mesin waktu yang kita punya.

Setiap kali aku mengingatnya, waktu seperti melambat sedikit. Suaranya kembali terdengar. Wajahnya kembali jelas. Bahkan keheningan di sekitarnya terasa hidup.

Tidak sama, tentu saja.

Tapi cukup untuk membuatku merasa… bahwa ia belum sepenuhnya pergi.

Mungkin mesin waktu bukan tentang kembali.

Mungkin tentang bagaimana kita tetap membawa seseorang, diam-diam, ke setiap hari yang kita jalani setelahnya.

Dan mungkin, di suatu tempat yang tidak bisa dijelaskan, ia masih duduk di sana—menunggu, tanpa tergesa.

Seperti waktu yang akhirnya memilih untuk berhenti, hanya untuk kita.

Untuk Ayah:

Ayah…
Rasanya masih sulit percaya kalau semuanya terjadi begitu cepat.

Baru kemarin rasanya aku merayakan ulang tahunku, dan sekarang… aku harus belajar menerima kenyataan bahwa Ayah sudah tidak di sini lagi.

Ada banyak hal yang belum sempat aku ceritakan.
Hal-hal kecil yang dulu kupikir bisa kutunda.
Hal-hal yang kupikir, “nanti saja, masih ada waktu.”

Ternyata… waktu tidak selalu menunggu.

Aku sering membayangkan, seandainya ada mesin waktu.
Aku tidak ingin mengubah apa pun yang besar.
Aku hanya ingin kembali ke momen-momen sederhana bersama Ayah.

Duduk tanpa tujuan.
Mendengarkan cerita Ayah, bahkan yang sudah pernah kudengar berkali-kali.
Menjawab lebih banyak. Bertanya lebih banyak.
Tertawa sedikit lebih lama.

Aku ingin bilang lebih banyak, Yah.

Bahwa aku bangga jadi anak Ayah.
Bahwa semua yang Ayah lakukan, meskipun mungkin tidak selalu aku ucapkan, aku rasakan.
Bahwa aku memperhatikan.

Dan yang paling penting…
aku bersyukur.

Maaf kalau selama ini aku belum cukup sering meluangkan waktu.
Maaf kalau ada hal-hal yang tidak sempat aku sampaikan.
Maaf kalau aku mengira Ayah akan selalu ada.

Sekarang aku sadar… waktu bersama Ayah adalah hal yang paling berharga yang pernah aku punya.

Ayah, aku masih ingin bercerita.
Masih ingin mendengar suara Ayah.
Masih ingin bertanya banyak hal.

Dan mungkin aku akan tetap melakukannya…
dalam diam, dalam doa, dalam ingatan.

Aku akan mencoba menjalani hidup ini dengan cara yang akan membuat Ayah bangga.
Meskipun tanpa Ayah di sampingku secara langsung.

Tapi di dalam hatiku…
Ayah tidak pernah benar-benar pergi.

Terima kasih untuk semuanya, Yah.
Untuk setiap waktu, setiap pelajaran, setiap kasih yang mungkin dulu terasa biasa… tapi sekarang terasa begitu luar biasa.

Aku rindu, Yah.

— Anakmu

Related posts

2 Bulan Lagi

Install WireGuard di Ubuntu VPS 24.04

Dieng, Land of Gods