Sebagai ibu kota provinsi, Palembang selalu hidup dari pagi hingga malam. Kota tertua di Indonesia ini tak hanya menyimpan jejak sejarah, tetapi juga kekayaan rasa. Pagi hari di tepian Sungai Musi menghadirkan pemandangan pedagang yang mulai membuka lapak, aroma masakan yang mengepul, dan dapur-dapur tradisional yang kembali beraktivitas.
Sambil menikmati pagi di Palembang, Anda bisa berburu sarapan legendaris kota ini. Bagi warga lokal, santap pagi bukan sekadar urusan kenyang, melainkan ritual kecil untuk menikmati hangatnya suasana kota. Burgo dan celimpungan menjadi dua pilihan yang paling sering dicari. Berbeda dari banyak kuliner lain, dua makanan khas ini justru memiliki “jam emas” untuk disantap, yakni pada pagi hari.
Burgo merupakan kuliner klasik yang sudah ada sejak abad ke-17, seiring masuknya beras ke wilayah Palembang. Makanan ini terbuat dari campuran tepung beras dan tepung sagu yang dibuat tipis, digulung, lalu dipotong-potong. Penyajiannya dilengkapi kuah putih dari santan dan sari ikan gabus yang gurih.
Sebagai salah satu hidangan tradisional khas Palembang yang digemari, burgo disajikan dengan kuah kari santan yang gurih, kaya rasa, dan sarat akan nilai warisan kuliner daerah.
Sementara itu, celimpungan memiliki bentuk yang sekilas mirip pempek. Adonannya terbuat dari ikan dan tepung sagu, dibentuk bulat, lalu direbus. Bedanya, celimpungan disajikan dengan kuah santan kuning berbumbu kunyit, bawang merah, bawang putih, kemiri sangrai, jahe, dan ketumbar, sehingga menghasilkan rasa umami yang kaya rempah.
Celimpungan identik dengan teksturnya yang lembut dan cita rasa yang kaya. Hidangan khas ini menghadirkan dumpling ikan yang disajikan dalam kuah santan harum, gurih, dan menggugah selera.
Setelah mencicipi burgo dan celimpungan, saatnya merasakan ikon kuliner Kota Palembang: pempek. Makanan khas ini terbuat dari campuran ikan giling, umumnya ikan tenggiri, dan sagu. Teksturnya kenyal dengan rasa gurih yang khas. Jenisnya pun beragam, mulai dari kapal selam berisi telur; lenjer berbentuk panjang; adaan yang bulat; hingga kulit dan keriting dengan tekstur berbeda.
Gurihnya pempek dengan cuko pedas manis menjadi rasa yang selalu dinanti saat ke Palembang.
Bagian terbaik pempek yang membuat rasanya semakin istimewa adalah cuko, kuah berwarna gelap dari campuran gula aren, bawang putih, cabai, dan asam, yang menghadirkan rasa manis, asam, dan pedas sekaligus. Dari kenyalnya adonan hingga tajamnya cuko, pempek meninggalkan kesan yang melekat di lidah.
Pempek tak hanya menjadi daya tarik wisatawan yang datang ke Palembang; bagi warga lokal, hidangan ini sudah menjadi bagian dari keseharian. Banyak kedai bahkan telah melekat sebagai tujuan kuliner legendaris, mulai dari Pempek Candy, Pempek Nonny 168, Pempek Beringin, hingga kawasan Kampung Pempek 26 Ilir yang dipenuhi penjual pempek turun-temurun. Tempat-tempat ini tidak hanya ramai saat musim liburan, tetapi juga ramai setiap hari oleh warga Palembang yang seolah tak pernah jauh dari seporsi pempek dan cuko.
Selain pempek, Palembang juga punya brengkes tempoyak patin, hidangan ikan patin berbumbu rempah yang dibungkus daun pisang lalu dipanggang hingga matang. Bentuknya sekilas menyerupai pepes. Saat bungkusnya dibuka, aroma harum menyeruak, sementara daging ikan yang lembut berpadu dengan bumbu yang meresap sempurna. Keunikan hidangan ini terletak pada penggunaan tempoyak, fermentasi durian khas Sumatra, yang menghadirkan perpaduan rasa gurih, manis, pedas, dan asam dalam satu hidangan. Paling nikmat disantap bersama nasi putih hangat.
Brengkes patin semakin kaya rasa dengan perpaduan tempoyak khas Melayu. Sentuhan gurih, asam, dan pedasnya membuat setiap suapan terasa lebih nikmat.
Sebagai pelengkap hidangan berbumbu kuat, masyarakat Palembang juga mengenal sambal nanas. Sambal khas ini menghadirkan sensasi segar dari buah nanas yang dipadukan dengan cabai dan sedikit rasa asam. Rasanya pedas menyegarkan sehingga menjadi penyeimbang sempurna bagi berbagai sajian khas Palembang yang kaya rempah dan gurih.
Sambal nanas menjadi pelengkap aneka hidangan ikan dan masakan, cocok untuk menyeimbangkan lauk berlemak atau berbumbu kuat.
Menjelajah Palembang juga belum lengkap tanpa mencicipi mi celor. Sajiannya sederhana, tetapi memiliki cita rasa yang kompleks. Mi celor menggunakan mi telur berukuran besar yang dilengkapi telur rebus, tauge, udang, dan taburan bawang goreng. Kuah santan kental berbasis kaldu udang menghadirkan rasa gurih dan creamy yang tidak berlebihan. Sederhana, tetapi cukup mengenyangkan sekaligus memanjakan lidah. Di Palembang, tidak sulit menemukan kedai mi celor. Hidangan ini sudah menjadi comfort food bagi warga lokal, sehingga penjualnya mudah ditemui di berbagai sudut kota.
Creamy, gurih, dan sangat menghangatkan, mi celor mencerminkan kekayaan warisan kuliner Palembang.
Untuk hidangan yang lebih berat, malbi menjadi bintang tersendiri dalam kuliner Palembang. Dahulu, makanan ini merupakan sajian istimewa Kesultanan Palembang. Daging sapi dimasak bersama kecap dan rempah hingga empuk. Meski tampilannya sekilas mirip semur, rasanya jauh berbeda. Perpaduan manis gurih yang pekat mengeluarkan rasa seperti karamel, ditambah aroma cengkih, pala, dan kayu manis yang khas. Tambahan kelapa sangrai ulek membuat rasa malbi makin istimewa, sehingga tak heran hidangan ini masih selalu hadir dalam berbagai perayaan adat masyarakat Palembang.
Dimasak perlahan dan kaya akan bumbu, malbi merupakan hidangan tradisional Palembang yang memadukan cita rasa manis dan gurih dalam setiap suapan yang menghangatkan.
Di sudut lain, ragit jala hadir sebagai sajian yang lebih ringan. Teksturnya lembut dengan bentuk menyerupai jala dan disajikan bersama kuah kari gurih. Rasanya ringan, tetapi tetap kaya, cocok dinikmati di sore hari sambil berbincang santai. Sekilas memang mirip roti jala khas India. Sebab, menurut sejarahnya, kuliner ini memang dipercaya mendapat pengaruh budaya India saat para pedagang Gujarat singgah di wilayah Kerajaan Sriwijaya pada awal abad ke-7.
Dengan krep lembut bermotif jala, ragit jala disajikan bersama kuah kari santan yang kaya rasa dan gurih.
Selain itu, kuliner Palembang juga erat dengan tradisi. Dalam budaya makan bersama, dikenal istilah ngobeng dan ngidang. Tradisi ngidang merupakan tradisi makan bersama yang sudah ada sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam. Tradisi ini juga bagian dari tradisi Islam yang telah terasimilasi dengan budaya lokal. Makanan dihidangkan dalam porsi-porsi yang diatur rapi untuk dinikmati 5–8 orang, biasanya dalam acara adat atau perayaan.
Dalam proses ngidang, biasanya para pemuda berdiri dalam barisan untuk mengantarkan makanan secara estafet ke tempat hidangan acara. Proses menghidangkan ini disebut ngobeng. Cara ini bertujuan mempercepat kedatangan makanan di tempat acara dan meringankan beban pembawa makanan. Hingga kini, tradisi ngobeng dan ngidang masih terus dijaga kelestariannya.
Tradisi ngidang dan ngobeng bukan sekadar tradisi makan bersama, tetapi juga tentang kebersamaan, cerita, dan budaya yang terus dijaga hingga sekarang.
Kuliner Palembang memperlihatkan bagaimana tradisi dan keseharian masyarakat menyatu di meja makan. Dari sarapan sederhana hingga hidangan khas kesultanan, setiap sajian menghadirkan cerita yang diwariskan turun-temurun. Di tepian Sungai Musi, rasa memang selalu punya cara tersendiri untuk membuat orang ingin kembali.