Aku akhirnya memutuskan untuk menggabungkan server Jellyfin-ku: Arwen dan Aragorn. Jadi, kalau nanti kamu login lalu muncul semacam warning, tidak apa-apa, abaikan saja dan pilih “connect anyway“. Itu hanya konsekuensi kecil dari proses penyatuan ini.
Dalam sebulan terakhir, hidupku terasa terlalu banyak diselimuti duka. Kematian memang selalu datang dengan caranya sendiri, diam-diam, tiba-tiba, tanpa aba-aba. Ia tidak pernah bertanya apakah kita siap kehilangan, apakah hati kita cukup kuat untuk ditinggal, atau apakah hidup kita akan baik-baik saja setelahnya. Maut tidak peduli. Dan barangkali dunia juga begitu.
Saat seseorang yang kita cintai pergi, hidup seakan dipaksa tetap berjalan seperti biasa. Orang-orang mungkin masih memberi simpati selama beberapa hari, mungkin seminggu. Setelah itu, semuanya perlahan kembali ke ritme masing-masing. Mereka punya kehidupan sendiri, urusan sendiri, beban sendiri. Sementara kita, yang ditinggalkan, tetap duduk di tempat yang sama, berusaha memahami ruang kosong yang tiba-tiba terbuka di dalam dada.
Barangkali karena itulah, aku mencoba mencari pengalihan. Bukan untuk melupakan, karena beberapa hal memang tidak bisa dilupakan, tetapi setidaknya untuk memberi pikiranku tempat lain untuk singgah sesaat. Dalam usaha kecil itu, aku memutuskan untuk mengakhiri server Aragorn di Singapura dan membawanya kembali untuk bersatu dengan Arwen di Belanda. Ada sesuatu yang terasa tenang dalam menyatukan hal-hal yang sempat terpisah, meskipun hanya sebatas server dan data.
Selain itu, aku juga mulai bermain-main dengan banyak hal lain: membuat gambar dengan image creation ChatGPT, mencoba coding dengan Codex, dan sesekali bereksperimen dengan Claude. Hal-hal kecil seperti itu ternyata cukup membantu. Tidak menyembuhkan, tentu saja, tetapi cukup untuk membuat hari-hari terasa sedikit lebih bisa dilewati.
Aku juga mulai menonton lagi semua serial dan film yang selama ini terus kutunda. Judul-judul yang selalu kusimpan untuk “nanti”, akhirnya kini kutonton satu per satu. Ada semacam kenyamanan di sana, duduk diam, menatap layar, membiarkan cerita orang lain memenuhi kepala untuk sementara waktu. Kadang itu cukup untuk meredam suara-suara yang terlalu bising di dalam diri sendiri.
Di sela-sela semua itu, masih ada rasa rindu yang samar kepada dia yang ada di Noormarkku. Rindu yang mungkin tidak pernah benar-benar selesai. Dan ada juga sedikit rasa jengkel kepada dia yang ada di Villingen-Schwenningen, yang masih terus-menerus mengakses situs ini. Aku kadang bertanya-tanya, sebenarnya maumu apa? Kamu rindu padaku? Atau hanya sedang memastikan bahwa aku masih ada?
Entahlah. Tidak semua hal harus punya jawaban sekarang juga.
Waktu tetap berjalan, dengan atau tanpa kesiapan kita. Dan semakin hari, aku semakin sadar bahwa hidup ini mungkin memang tidak sepanjang yang dulu kubayangkan. Dengan umurku sekarang, mungkin sisa waktuku di dunia tinggal sekitar dua puluh tahunan lagi, mungkin lebih, mungkin kurang. Siapa yang tahu? Pertanyaan-pertanyaan itu sesekali datang: siapkah aku untuk pergi? siapkah aku ditinggal pergi? Tapi mungkin itu bukan sesuatu yang perlu kujawab hari ini.
Itu urusan nanti.
Untuk sekarang, aku hanya ingin melanjutkan hidup sebisanya. Melanjutkan tontonan yang tertunda. Melanjutkan hari-hari yang tetap datang. Melanjutkan napas yang masih ada.
Jadi ya, mari lanjutkan saja nontonnya.
Dan buat kamu yang ada di Jerman: sabar ya. Tinggal sekitar empat bulan lebih sedikit lagi sebelum situs ini teralihkan.
